ppti.info Technology Buku Supernova Akar Pdf

BUKU SUPERNOVA AKAR PDF

Tuesday, November 19, 2019


Title: Supernova: Akar. Author: Dee Lestari. Rating: ISBN: Format Type: Paperback. Number of Pages: Url Type: Home» Supernova. Download Dewi Lestari ''Dee'' - Supernova Akar Description. SUPERNOVA Episode: AKAR ebook by [email protected] DEE. supernova - ppti.infoess - supernova episode: akar ebook by mattspencerarts - manual pdf download,supernova akar supernova 2 by dewi.


Buku Supernova Akar Pdf

Author:YUONNE KAMSTRA
Language:English, Spanish, Dutch
Country:Ukraine
Genre:Personal Growth
Pages:605
Published (Last):02.10.2015
ISBN:727-5-30915-462-1
ePub File Size:17.76 MB
PDF File Size:17.52 MB
Distribution:Free* [*Regsitration Required]
Downloads:41056
Uploaded by: VASHTI

ppti.infoess - supernova partikel pdf, nugerundesu gold supernova: akar supernova, 2, supernova supernova partikel supernova. novel supernova: akar karya dee lestari dapat dianalisis dari segi pendekatan bahasa. dalam hal ini, analisis referensi partikel dee pdf - ppti.infoess . four books, including “Supernova: Akar” (Root), “Supernova: Petir” (Thunder) Representasi Postmodern dalam Novel Supernova Edisi Petir Karya Dee Lestari.

Bong menyeringai. Gigi keroposnya—konon karena kebanyakan minum soft drink lalu selalu lupa sikatan—penuh pancaran ketulusan. Aku butuh itu. Persahabatan memang obat sakit nomor satu. Bong berkali lipat lebih berantakan dari gerobak sampah, ogah mandi karena katanya dapat melunturkan jimat, tapi ia sayang semua temannya.

Masa aktif akun hosting gratis hampir habis.

Terutama aku. Bong, kenapa gua di sini, ya? Gua mestinya pergi siaran. Tapi, kok — Ia memotongku dengan tawa ngakak, Lo emang bangsat yang beruntung! Gudang kita kebakaran gede-gedean barusan. Bentar lagi mateng, kali.

Pemadam kebakaran aja 20 I Supernova 2. Gue baru dapet kabar dari si Nyong—. Lanjutan kalimat Bong lenyap ditelan ruang kosong. Aku tidak khawatir dengan peralatan kami yang nyaris tak ada harganya. Semua hasil rakitan anak-anak dengan suku cadang yang hampir seluruhnya didapat dari ngutil.

Tidak juga dengan gudang kosong di atas tanah sengketa yang kami klaim jadi markas. Seluruh kaset, CD, juga CD player ada dalam ranselku. Aku langsung teringat Gun, yang saat ini pasti sedang nangkring di depan radionya, terpaku di gelombang kami yang ditandainya pakai spidol. Kasihan dia. Andai saja aku bisa menggantikan Bono dan bernyanyi: El Diablo. Dewa Kematian. Tapi, kok, malah kalian yang pengecut?! Oke, oke, mungkin bukan dengan cara dipanggang dalam oven beton.

Aku akan mengelus dada, dan bersabar. Tapi jangan lamalama. Selama ini aku menghargai peran kalian dengan tidak melakukannya atas insiatif pribadi.

Jangan salah sangka dulu. Aku mencintai kehidupan. Aku menikmati setiap hela napas, setiap pergerakan terkecil semua sendi dan ototku, dan aku sepakat tidak ada yang lebih merdu dari suara detak jantung. Tapi, seperti kalimat klise yang berbunyi setiap manusia punya batas, aku juga punya. Nah, lucunya, eksistensi bodohku selalu mendorong batas itu sehingga apa yang kukira batasku hari ini ternyata masih punya ujung baru esok harinya.

Sama liciknya dengan stiker di angkot, 'Hari ini bayar, besok gratis'. Manusia yang selalu hidup di benang perbatasan antara waras dan gila, antara kata mutiara AKAR I 21 dan umpatan durjana, adalah manusia yang paling kesepian.

Lautan manusia lain hidup nyaman di area 'wajar-wajar saja'. Bukan aku. Aku hanya bisa memandangi layaknya gelandangan di bukit sampah menatap gedung apartemen mewah. Seperti Pluto nan beku memandangi Bumi nan biru. Tapi kita samasama manusia. Syukur, Bong kembali menyadarkanku. Bod, lo ditunggu ama anak-anak entar sore. Program orientasi lagi. Bisa, kan? Aku mengangguk. Sekalipun status manusiaku diragukan, tapi minimal aku masih punya guna untuk manusia lain.

Itu sudah cukup untuk hari ini. Besok aku sudah jadi kodok. Siapa yang tahu? Bong membangun punk scene yang tidak bisa dibilang kecil. Meski paling benci disebut ketua geng, dan menganut prinsip rhizoma dalam membina jaringan, ia tetap dituakan dan dihormati seluruh scene di negeri ini, karena paling cerdas dan berwawasan.

Banyak anak yang bergabung gara-gara ingin gotong-royong mabuk murah, atau menyalurkan kekesalan mereka pada anak-anak borju yang selalu berhasil menggaet cewek cakep dengan cara menegakkan rambut pakai lem Fox, lalu diwarnai seperti dinding TK, kemudian joget popo seperti kawanan kangguru berahi, dalam jins setipjs tisu yang tak pernah tersentuh air kecuali keringat atau hujan.

Mereka pikir itu satu bentuk perlawanan. Bisa jadi betul. Tapi Bong lain. Ia membaca. Ia tahu sejarah. Ia membuka mata terhadap dunia. Ia tahu ujung-pangkal luar-dalam kenapa ia memilih jalan hidup seperti itu. Ia punya pandangan X-Ray yang menembus permukaan.

Mungkin, karena itulah ia langsung menyambut hangat kehadiranku dulu. Pada satu sore cerah di Kota Bandung, tiga tahun silam, sehabis menonton pertunjukan musik di lapangan yang kelak kelak kutahu disebut 'Saparua', berdua kami duduk di jongko mi 22 I Supernova 2.

Kenapa Bong? Bukan Bing, atau Bang, atau Bung? Bong tertawa seraya mengambil teh kotak kosong dari tanganku, menyobek satu ujungnya, lalu menyobek kertas timah dari dus rokok, dilipat dan dibuat kerucut dengan ujung sedikit membuka, ditancapkan ke lubang sedotan.

Terakhir, menyodorkannya balik padaku. Karena ini, ucapnya. Apa ini? Lo suka nyimeng? Aku menggeleng. Daunnya ditaro di sini, Bong menunjuk wadah kerucut. Bakar, terus asapnya diisep dari sini, lanjutnya sambil menunjuk sobekan di ujung. Kotak ini sekarang sudah resmi jadi bong.

Gue juga bikin bong dari dus rokok, aqua bekas, semangka, pepaya, batok kelapa, apa aja—lo tinggal kasih, entar gue oprek, jelasnya lagi. Kenapa Bodhi? Bukan Budi, bukan Bude, atau Bodo? Ia membalas pertanyaanku. Aku tertawa, dan karena sore itu indah, aku pun mulai bercerita tentang satu 'kenapa' yang bercabang menjadi ratusan 'apa?!

Sesudahnya, Bong berkata sambil menatapku tepat di bola mata. Anarki yang sejati ada di dalam sini. Ia rrienunjuk dadaku. Lo itu guru gue, Bodhi. Punk in the heart. Ia lantas mengambil cutter, memotong satu tanduk rambutnya, dan menyimpankannya dalam genggamanku. Setelah itu ada bundaran kosong di kepalanya yang membuat dia seperti domba cacat.

Bongpun terpaksa potong pendek. Sampai sekarang. Dan, terus terang, mukanya jadi mendingan. Sebelum sore itu. Rambut Bong masih bertanduk lima. Karena ingin melihat-lihat Kota Bandung dulu, dari Kebon Kawung aku berjalan kaki tak tentu arah. Di sebuah jalan penuh pohon besar, ada taman yang tadinya ingin kusinggahi, tapi tak jadi karena ternyata bau got. Aku berjalan terus dan kutemukan gedung olahraga yang penuh sesak. Bukan oleh atlet, melainkan orang-orang yang berkesan tidak sehat, kurus-kurus, merokok, tapi mereka kuat sekali melompat-lompat.

Sekilas mereka kelihatan bengis, tapi lamalama kupikir mereka lucu. Tak lama, aku terjun bergabung. Kutabrak mereka, mereka tabrak aku, tak ada yang peduli. Kulepas topiku, melemparnya ke udara, tak satupun melirik. Pada saat itulah kutemukan rumah yang kucari-cari.

Pertunjukan musik itu berlangsung nonstop dari siang sampai sore. Belasan band naik turun panggung. Semua penyanyi tidak seperti bernyanyi, tapi menyalak. Suara gitar listrik meraung bising seperti jeritan atap seng diamuk angin.

Tak ada lagu yang kutahu. Tapi aku melompat paling tinggi dari siapa pun. Lalu kucoba terjun bebas dari panggung dengan posisi punggung di bawah, seperti yang banyak anak lakukan. Pertamanya memang ngeri, tapi lama-lama imanku pada mereka bertambah kuat.

Tangan-tangan itu pasti terentang menopang, apapun yang terjadi. Sampai akhirnya, pada loncatanku yang kesekian, aku begitu tenang. Sempurna seperti Superman. Dan ketika mataku membuka, tangan-tangan itu tak ada. Cuma tanah. Badanku jatuh dengan suara debup keras. Punggung ini hilang dan berganti nyeri yang menyerupai bentuk punggung. Ketika aku duduk, baru terlihat kerumunan orang dan panggung—jauh di depan.

Seseorang, yang beberapa jam kemudian kukenal sebagai Bong, menyeruak datang dan membantuku bangkit berdiri. Nama lo siapa? Ia bertanya cepat. Bodhi, jawabku. Ia 24 j Supernova 2. Tepuk tangan dan sorak-sorai bergemuruh menyambut namaku yang tak mereka kenal. Semenjak itu aku terkenal dengan nama si Bodhi Batman, anak yang moshing terjauh seperti terbang sampai-sampai tak tertangkap.

Setelah aku melebur—jadi bagian dari komunitas mereka dengan peran tukang tato—namaku tambah lagi: Hidupku berpindah-pindah sejak itu. Kebanyakan aku di Jakarta bersama Bong, mengurus radio yang kadang mengudara kadang tidak.

Sering juga aku membantu teman-teman yang bikin fanzine di Bandung, lalu mendistribusikannya ke kota-kota yang bakal kusinggahi. Tapi, ke mana pun aku pergi, tidak pernah kutemukan lagi orang seperti Bong. Siapapun yang kenal dia, sebengis atau setolol apapun, pasti akan tunduk hormat, cepat atau lambat. Walau dengan otak berkabut sehabis minum cap tikus, mereka masih berusaha mencerna petuah-petuah Bong di bawah keremangan petromaks warung rokok si Gombel.

Bagi Bong, punk itu filosofi. Punk merupakan reaksi politisnya terhadap carut-marut politik yang membuat ia muak. Dengan pelan dan sabar, Bong menerangkan konsep anarki yang sesungguhnya. Anarki tidak sama dengan chaos, tidak sama dengan kekerasan. Anarkisme merupakan satu dorongan naluriah akibat sistem ekonomi yang tamak dan pemerintahan yang opresif.

Anarki berarti egaliterianisme total. Bukan omong doang. Anarki berusaha mengembalikan kemerdekaan di tangan individu tanpa unsur paksaan. Mendadak seorang dari jemaatnya tergelentang tidak kuat.

Bong dengan telaten menggiringnya ke selokan, memijat-mijat tengkuk anak itu sampai termuntah-muntah, memberikannya teh pahit panas, lalu kembali berkhotbah. Ya perempuan, ya laki, ya orang kita, ya orang Cina, ya normal, ya homo— semuanya sama.

Patriotisme itu taik. Perang itu goblok.

The Power of Now: A Guide to Spiritual Enlightenment

Media massa apalagi! Mereka cuma butuh uang. Nggak cuma di sini, tapi di seluruh dunia. Mereka nggak pernah mau liat masalah yang sebenernya. Cuma peduli ama kalimat sepotongnya artisartis sinetron, musikus, politikus. Semua ini barang dagangan, man. Dengan lo nolak dikontrol ama institusi, lo ngambil kendali hidup di tangan lo sendiri, itu dia yang namanya personal order.

Itu dia yang namanya anarki. Dan kita-kita harus hidup saling ngehormatin, saling percaya. Kalau hanya bicara berdua denganku, Bong lebih gila lagi. Selama prinsip dasar setiap pemerintahan berarti berkuasa di atas satu pihak, ke laut aja pada!

Gue jamin mereka bakal jadi opresif. Kita dikhianiati tiga kali oleh komunis, lo tahu? Bong duduk tegak dan berhitung dengan jarinya di depan hidungku. Pemberontakan Kronstadt taon ' 2 1 , gerakan anarkis Ukraina dari taon '18 ampe '21, ama Perang Saudara Spanyol taon ' 3 6 ampe ' 3 9. Begitu menang, anarkis malah digencet ama komunis totaliter dan revolusi yang sebenarnya nggak pernah kejadian. Cuma ganti pemimpin doang! Lingkaran setan!

Bong mengumpat sepenuh hati seolah-olah itu bagian dari sejarah pribadinya. Bod, gue nggak bakalan pernah ngutil di warung si Gombel, tukasnya. Gue justru harus beli dagangannya untuk bantu dia. Gue cuma mau ngutil di toko-toko kapitalis. Lo ngerti, kan?

Anarki bukan berarti tidak ada hukum. Tapi anarki terjadi ketika hukum. Dua anting di alis kirinya ikut berkilau kena pantulan sinar lampu natrium. Total ada tiga belas anting di seluruh mukanya—dari mulai bibir, dagu, sampai 26 I Supernova 2. Manusia makin nggak kayak manusia, Bod. Orang miskin ngerampok TV, ngerampok HP—barang-barang yang nggak mereka butuhin. Lo tahu kenapa? Karena itulah syarat untuk jadi manusia zaman sekarang ini.

Itu juga yang dikejar-kejar orang kelas menengah biar naek pangkat jadi kelas atas. Dan kemewahan itulah yang dipertahanin orang kelas atas. Kagak peduli, kalo perlu ampe ngisep darah manusia lain. Kapitalisme itu kanibalisme!

Terkadang, kau temukan mutiara dalam lumpur ketika melihat seorang Bong berkata dengan suara bergetar. Gue ngeri, Bodhi. Tubuh itu bergidik.

Meringkuk cemas sambil menatap langit—seperti melihat setan di setiap molekul udara— kemudian menatapku. Jauh-jauh orang ngomong soal neraka, Bod. Bukannya kita sekarang lagi terbakar hidup-hidup di sana? Bernapas, Bong. Bernapas aja. Aku mengajaknya untuk memejamkan mata, mengembungkan diafragma, mengisap dan mengembuskan udara perlahan.

Kami bisa bertahan seperti itu 10—15 menit. Sampai raungan jalan berubah menjadi dengungan merdu. Sampai kami temukan kesunyian dalam kebisingan dunia. Hal sama kulakukan pada apa yang tadi disebut Bong program orientasi. Pada sore yang mendung tapi tidak hujan-hujan ini, empat anak duduk di hadapanku.

Kami belum pernah bertemu sebelumnya. Dua dari mereka masih tinggal dengan orang tua, dua sudah tidak dianggap anak dan memutuskan untuk mengabdi total pada scene. Mereka mencari uang dengan ngamen, nindik, bikin fanzine, atau terkadang jadi bandar ganja. Do It Yourself. Sedapat mungkin tidak bergantung pada orang lain, juga tidak membeli barang-barang yang masih bisa diadakan sendiri. Mereka lebih terampil dari anak-anak sekolah yang diajarkan PKK.

Namun, tugasku di sini, selain mengajarkan mereka bernapas, adalah bercerita. Bong percaya bahwa cerita hidupku dapat menjadi inspirasi mereka seumur hidup, sebagaimana yang ia alami.

Aku tidak peduli soal itu. Lebih penting memberi mereka peringatan bahwa ceritanya bakalan panjang. Sekembalinya aku dari keran air, kamar kos Bong semakin sesak oleh volume tubuh kami berlima. Dengan posisi frontal menghadap mereka yang terdesak—ada yang sampai harus duduk di kasur—aku bersila, menggenggam tasbih kayu. Kuraih simpul mati bandanaku, mengurainya perlahan, mengangkatnya hati-hati. Dan kusambut kesiap sunyi, reaksi semua manusia kala pertama mereka melihatku tanpa penutup kepala.

Mereka diam karena meragu. Bong menyebut style gundulku straight edge. Satu aliran wajar serta mendunia dalam peta besar punk. Itu juga menjelaskan kenapa aku tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak pakai drugs, tidak menganut free sex [bahkan s e x doang juga belum pernah], dan vegetarian. Tapi, Bong tidak bisa menjelaskan, mengapa sepanjang sejarah jasad bernama Bodhi, tak pernah tumbuh sehelai rambut di kepalanya.

Masa aktif akun hosting gratis hampir habis.

Straight edge hanyalah satu eksplanasi yang bisa diterima akal. Bong memberitahuku bahwa di luar [ia memaknainya sebagai Amerika atau Inggris], selain tato dan tindik, ada seni estetika 28 I Supernova 2. Orang-orang ini menyelisipkan lempengan atau bola besi ke jaringan kulit mereka hingga tahu-tahu bisa muncul tanduk di kepala, tonjolan berbentuk bintang di punggung tangan, dan macam-macam lagi.

Ini bisa dipakai untuk menjelaskan kenapa ada susunan tulang seperti tulang belakang membelah kepalaku, mulai dari puncak dahi ke belakang dan menghilang perlahan di pangkal tulang leher. Mereka menjulukiku Klingon.

Padahal sisa tubuhku yang lain sama seperti manusia biasa, jidatku tak lantas berlipat, dan aku pun kurus, tidak tinggi besar seperti makhluk Klingon dalam Star Trek. Tapi, tak seorang pun pernah memberitahu kenapa ada manusia yang terlahir alami dengan tengkorak kepala seperti ini.

Implant, akhirnya menjadi satu eksplanasi yang rasional. Sebelum diberitahu Bong, aku tak punya alasan, kecuali menutupinya dengan tutup kepala. Topi kalau sedang jalanjalan, bandana yang paling sering, dan rambut palsu—aku punya satu.

Pada beberapa kesempatan aku tak punya pilihan selain tampil polos. Membiarkan orang-orang bergelut dengan badai benak masing-masing. Keempat anak itu sungguh ragu—sama seperti aku dulu, yang masih sering kambuh sampai sekarang—adakah anak bernama Bodhi, yang mencuci setengah tubuhnya cuma untuk bercerita, bersila sempurna dengan tasbih kayu di tangan kiri, adalah manusia? Sekalipun ia berkata-kata seperti mereka. Bernapas dengan paru-paru. Berjalan di atas dua kaki. Dan sering nongkrong di warung si Gombel.

Satu anak berani menentang kegundahannya dengan bertanya. Aku mengangguk kecil. Tersenyum kecil. Kebohongan besar. Air muka mereka berubah. Aku bertransformasi dari binatang menjadi pahlawan. Sakit, nggak? Sakit sekali. Tawaku melebar, kebohonganku yang semakin besar. Melupakan kepalaku. Ke pa la ku. Semua diawali dengan kalimat sama.

Ini kisah perjalanan menemukan diri, yang di ujung ceritanya nanti, perjalanan itu pun masih belum selesai. Bukan jampijampi. Jangan merasa terintimidasi.

Saya tidak menyuruh kalian menirukannya. Ini hanya syariat saya, ritual yang selama delapan belas tahun saya jalankan di vihara.

Ritual yang tidak bisa saya lepaskan begitu saja. Delapan belas tahun.

Supernova: Akar

Mulai dari belajar merangkak, bicara, sampai pipis 30 I Supernova sendiri. Saya hafal ratusan mantra bahasa Mandarin—termasuk dialek Hokkian dan Kanton—juga bahasa Pali. Tidak pernah saya menganggap itu unik. Vihara memang hidup saya. Tak ada pilihan lain. Guru, orang tua, keluarga, sekaligus sahabat, ada di sosok satu orang bernama Zang Ta Long.

Biasa dipanggil dengan sebutan Guru Liong. Pada tahun ' 4 7 , Guru Liong emigrasi dari Changchun—kota di Cina sebelah utara yang sudah dekat ke perbatasan Mongolia—ke Indonesia yang serba hangat, dan mulai mengabdi di vihara sejak tahun ' 6 7. Ditakdirkan untuk memelihara vihara, seperti ibu membesarkan anak. Seperti itu juga dia memelihara saya.

Guru Liong menemukan saya di halaman depan vihara, terbungkus sarung, dalam kotak kardus rokok bekas yang diletakkan di bawah pohon. Dua puluh tiga tahun yang lalu. Waktu itu saya menangis keras sekali, dibarengi angin ribut yang membikin setiap lembar daun berisik.

Kata Guru Liong, alam seperti ikut memerintahkannya untuk datang ke pohon itu. Saya kemudian dinamai Bodhi, walaupun bukan ditemukan di bawah pohon bodhi, tapi pohon asam. Cuma mungkin agak aneh kalau bayi dikasih nama Asam. Ketika saya mulai besar, dia baru bercerita bahwa peristiwa itu sudah diketahui lewat mimpi kira-kira dua tahun sebelumnya, dan berulang terus setiap hari pada seminggu terakhir sebelum saya ditemukan.

Dalam mimpinya, ada sebuah pohon bodhi betulan menaungi satu peti gede berisi cahaya. Ketika dia ngintip ke dalam peti, tiba-tiba cahaya itu menjelma menjadi bayi yang sudah bisa jalan dan bicara. Seperti Siddharta Gautama. Terus, bayi itu melayang di atas tanah dan membakar pohon tadi dengan jarinya. Aneh, ya? Tapi, yang lebih gila lagi, semenit sesudah Guru Liong mengambil kardus rokokku, pohon 2. Hangus sampai kayak batang korek kebakar. Vihara yang membiayai.

Ketika umur saya tiga tahun, Guru Liong memutuskan untuk mengasuh saya sendirian. Saya tidak pernah masuk SD, apalagi TK. Jadi, nggak mungkin bolos. Kerjaan saya sehari-sehari? Membersihkan vihara, membersihkan tempat pemujaan seukuran warung bakso yang jumlahnya sepuluh, menyapu plus mengepel kompleks yang luas bangunannya kira-kira dua kali lapangan bola, masak, belajar, dan latihan wushu. Yang terakhir ini dilakukan diam-diam, Guru Liong sendiri yang melatih.

Badannya memang setipis tripleks dan ototnya dibentuk oleh protein nabati tok. Tapi, dia itu asli keluaran Biara Shaolin.

Guru Liong menghabiskan masa remajanya di salah satu biara tertua, di kaki barat Gunung Song Shan. Di sanalah dia mempelajari wushu aliran Chang Quan. Kerasnya tempaan alam Cina Utara memang membentuk karakteristik masyarakatnya untuk lebih ulet dan tahan menderita dibanding alam selatan yang lebih ramah. Tidak heran kalau wushu orang utara cenderung lebih kuat, ganas, dan mengutamakan tendangan serta gerakan-gerakan gesit yang membikin matamu pusing.

Guru menjadi manusia yang sama sekali berbeda ketika berlatih wushu. Sorotan matanya setajam lembing menukik, tangannya gemulai seperti kibaran selendang tapi sedahsyat gebukan beton. Ketika berdiri, dia diam bagai batu karang.

Kaki tertanam ke tanah. Tapi, ketika mulai bergerak, dia seperti kerasukan ular. Luwes bukan main. Dan tinjunya meluncur kayak meteor. Dengan gagang sapu bekas, kami berdua berlatih. Dan di tangannya, jangankan gagang sapu, batang lidi pun bisa dipakai untuk melumpuhkan lawan.

Jangan pernah macam-macam dengan Guru Liong. Dia pernah menotok lumpuh tiga rampok sekaligus—salah satunya segede petinju kelas berat—kurang dari sepuluh detik! Menurutnya, itu sama sekali bukan kesaktian. Guru Liong cuma mengenal tubuh manusia dengan baik.

Terutama tubuhnya sendiri. Makanya dia bisa menjepit nyamuk pakai jari di ruang gelap. Sambil ngobrol. Umur enam tahun saya baru sadar ada yang tidak beres. Dunia yang tertangkap pancaindra saya ternyata beda dengan orang lain. Kadang-kadang, saya harus jalan sambil terus meraba tembok supaya bisa tetap mengukur dimensi panjanglebar-tinggi, sesuatu yang kalian semua lakukan tanpa usaha.

Ketika lantai yang saya pijak mendadak hilang dan berubah jadi pusaran api, saya bingung mana yang harus dipercaya: Merem juga percuma. Seringnya, kelopak ini nggak berfungsi. Apa yang saya lihat dengan mata terbuka dan terpejam.

Kalau sudah nggak kuat, saya cuma bisa nangis. Atau ngompol. Pernah juga saya terbangun dan menemukan tubuh ini melayang tanpa tempat tidur, bahkan tanpa ruangan. Saya baru pingsan waktu melihat ada bola biru terapung di bawah jempol kaki: Planet Bumi. Kejadian lain, waktu saya berumur sebelas tahun, ketika sedang makan bakpao manis favorit saya. Dan, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saya melihat bakpao itu diselimuti selaput halus yang bergerak-gerak, cepat sekali. Saking cepatnya, bentuk bakpao saya tetap utuh.

Dan ketika saya melihat sekeliling, ternyata selaput aneh itu ada di mana-mana: Sampai saya sadar selaput itu adalah kawanan kuman, atau apalah, mikroorganisme yang seharusnya tidak terlihat oleh mata telanjang. Sejam lebih pemandangan itu nggak hilang-hilang. Hasilnya, saya nggak bisa makan tiga hari. Plus, sembelit seminggu karena tidak kuat melihat berak sendiri.

Bisa ngeliat yang nembus baju 'gitu, nggak? Anak ceking di depanku bertanya iseng. Seketika mereka jadi salah tingkah. Lima detik tidak kujawab, dan anak-anak itu mulai cengar-cengir, geser-geser tempat duduk. Tidak, jawabku, tidak mau tepatnya. Mereka tertawa lega. Tapi, tato lumba-lumba di punggung kanan kamu harus lebih sering dikasih Betadine, bengkaknya udah kelamaan. Awas infeksi. Anak yang duduk paling belakang refleks menyentuh punggungnya. Mukanya memucat, serasi dengan rambutnya yang baru di-bleach.

Mereka merasa tidak aman lagi seruangan denganku. Aku tahu itu. Namun harus terus bercerita. Banyak yang mengira saya gila, epilepsi, halusinasi berat, dan sebagainya. Termasuk Guru Liong. Sepertinya dia tahu 34 I Supernova 2.

Rupanya waktu itu dia masih belum yakin. Beranjak remaja, pengalaman aneh itu berubah tipe. Bukan lagi pemandangan seram-seram, tapi sepertinya tubuh saya 1 Mengejar pengalaman yang lebih terpadu. Satu hari, ketika selesai 1 Meditasi sambil berbaring, saya bangkit duduk dan. Waktu itu saya merasa yakin sudah mati, karena lama-lama sensor atas dunia—realitas fisik ini—hilang. Semua pang saya lihat bergerak cepat sesuai gerak pikiran. Bisa kalian bayangkan?

Ternyata pikiran itu tak terhingga liarnya, luasnya, Cepatnya. Luar biasa ringan, sekaligus mengerikan. Saya tidak bisa kasih gambaran persisnya. Cuma penyair barangkali yang Uia. Itu juga kalau mereka tidak jadi gila. Setelah beberapa saat lompat-lompat—atau entah apa namanya itu—saya kembali tersedot, masuk ke tubuh lagi, dan rasanya sangat, SANGAT sakit.

Pertama kali itu terjadi, saya muntah-muntah, lalu jadinya tidur terus. Kayak bayi baru lahir yang masih beradaptasi dengan tubuh sendiri. Tapi lama-lama, setelah kejadian sama terulang dan tendang lagi, akhirnya, ya biasa juga. Fase berikut, yang menurut saya paling parah, yaitu ketika diri saya sering berubah identitas. Maksudnya begini. Tahukah kalian bagaimana rasanya jadi tikus got? Bahkan lalat? Saya tahu. Lalat merupakan pengalaman pertama.

Hari itu ada satu ekor yang hinggap di atas nasi yang sedang saya makan. Saya cuma melihatnya sekilas sebelum mengibas, dan tahu apa yang terjadi? Mendadak kepala saya kesemutan, seperti diremas dan dibawa lari.

Tiba-tiba, dunia jadi kabur, berpendar, dengan warna-warna menyala yang aneh. Saya tidak mengenal apa pun yang saya lihat. Kata-kata hilang, tinggal. Sesaat kemudian, semuanya lenyap lagi, dengan sensasi kesetrum yang sama.

Saya baru sadar ketika bertatapan lagi dengan si lalat, yang masih diam. Tapi kali ini, saya melihat diri saya. Sejak itu banyak sekali pengalaman sama terulang, bukan cuma binatang, manusia juga.

Selama sekian detik, saya merasakan persis apa yang mereka rasakan. Berpapasan di jalan dengan seseorang, tiba-tiba perspektif saya berbalik, berlawanan arah sesuai dengan perspektif orang itu. Awalnya memang asyik. Dan karena cuma terjadi beberapa detik, jadinya menyenangkan.

Tapi, saya tidak pernah punya kendali—semua kejadian itu nggak ada tanda-tanda—cuma bisa pasrah dan siap dikejutkan kapan saja. Saya mulai takut bakal terjadi sesuatu yang mengerikan. Dan memang betul. Satu hari, saya lewat lapangan besar yang lagi ada upacara kurban. Nggak sengaja, mata saya beradu dengan sapi yang mau disembelih, dan.

Saya tidak bisa menjabarkan. Pokoknya ingin meledak. Air mata dan keringat dingin banjir jadi satu. Badan ini kayak dilem di tembok, tidak bisa bicara, rahang kejang.

Kambing, domba, sapi,. Akhirnya saya meletus, meraung-raung, histeris, rubuh, kejang-kejang, ngompol dan berak di celana, sampai akhirnya pingsan. Sadarsadar sudah di rumah sakit. Dokter bilang, pada kasus kejang separah itu, orang bisa mati atau paling tidak lumpuh total.

Saya koma lima hari, tapi bisa sembuh seratus persen kurang dari 36 jam. Baru di sanalah Guru Liong yakin kalau saya ini memang— lain. Atau lebih tepat: Pulang ke vihara, Guru Liong langsung mengajak saya puasa. Dan berbulan-bulan, nggak berhenti-berhenti, kami berdua membaca dharani, sutra, mantra. Guru Liong menduga 36 I Supernova 2. Atau gampangnya, dulu saya ini bosnya monster segala monster, atau manusia tiga perempat iblis, sampai menangguk dosadosa seberat itu.

Guru Liong bilang, karena itulah saya nggak mati-mati. Saya dihukum sampai nyaris mati, lalu dikembalikan sembuh untuk disiksa lagi. Dunia ini neraka saya.

Saya membaca dharani Sukhavativyuha—kata Guru Liong dapat menghancurkan akar dari segala karma buruk— genap sampai Tapi nggak ketemu-ketemu. Supaya kembali suci, saya lalu baca mantra Mahacundi sebanyak Tapi mereka juga nggak datang-datang. Gimana rasanya? Anak yang duduk di pojok kananku tahu-tahu bersuara. Yang mana? Zikir Rasanya mulut jadi jantung. Jantung jadi mulut.

Kata-kata berjalan ke belakang kepala, terpompa masuk ke darah, dan kamu bisa merasakan alirannya. Kata-kata itu lantas mendaging dan mendarah. Sel-sel baru. Dan kamu. Tapi anak-anak itu tidak mengerti. Sama seperti aku dulu. Bahwasanya setiap kata adalah mantra. Kau kutuk dirimu. Kau kutuk orang lain. Kau berkati neraka. Kau tutup pintu surga.

Aku terus bercerita. Saya tidak pernah bisa tenang lagi. Selalu ketakutan. Melihat semut saja takut. Tidak berani ke mana-mana, tidak mau bertemu siapa-siapa. Saya takut karena ternyata di dunia ini lebih banyak penderitaan.

Hampir semua makhluk menderita. Di mana-mana yang ada cuma ketakutan dan ketakutan. Kalau begitu, kenapa perlu ada kehidupan?

Kenapa harus ada dunia? Sering terpikir untuk mati saja—bunuh diri, kek atau apa, kek—cuma saya ragu masalahnya akan selesai sampai di situ.

Saya nggak kepingin ada dalam keduanya. Tidak usah hidup. Tidak juga perlu mati. Orang normal kalau sedang punya masalah akan lari ke dunia religius. Tapi, salah satu kelainan saya justru gara-gara terlahir dan besar sebagai orang religius.

Tinggal saja di tempat ibadah. Jadi, harus ke mana lagi?

Umur saya baru delapan belas tahun, tapi rasanya sudah hidup berabad-abad. Pada titik itulah saya memutuskan untuk keluar dari vihara. Menikmati saja neraka ini. Terbakar hangus, jangan nanggung.

Lalu saya datang menghadap Guru Liong, mencium tangannya, dan bilang: Saya capek. Aku terpaksa rehat sejenak demi menekan bubungan ludah. Tak pernah bisa kulewatkan kenangan satu itu dengan tenang. Keriput muka Guru berlarik halus seperti kertas crepe yang meruntai-runtai di pesta ulang tahunku yang kesebelas— acara sederhana yang cuma dihadiri calon-calon pandita ditambah beberapa orang dari kampung—di ruang kelas yang masih setengah jadi, dengan sebelas bakpao manis hadiah dari Guru Liong.

Satu-satunya kebahagiaan yang pernah kurasakan sepanjang masa kecilku yang penuh teror [sampai akhirnya bakpao manisku diselimuti selaput kuman itu, tentunya]. Pertama dalam delapan belas tahun, aku memberanikan diri untuk menyentuh muka orang itu, manusia yang selalu memayungiku seperti langit.

Kutangkupkan kedua tanganku di pipi tuanya. Ingin berkaca di matanya yang mulai kelabu. Tak seperti kertas crepe, ternyata kulitnya halus dan sejuk. Dan di celah tipis yang kuyakini adalah mata, aku tersungkur. Sekian detik merasakan apa yang ia rasakan, sekian detik 38 I Supernova 2.

Aku menghambur memeluknya. Akan tetapi, Guru Liong cepat menepiskan rangkulanku. Dan sebelum aku bisa berkata-kata, dia mencerocos dengan kepala tertunduk berjarak hanya lima senti dari lantai. Qianbei, saya juga sudah bermimpi tentang perpisahan ini. Maafkan saya tidak berterus terang sebelumnya.

Qianbei memang tidak boleh terus di sini. Tiga hari lagi, ada rombongan pandita yang akan pergi ke Medan, dan saya sudah siapkan keberangkatan qianbei dengan mereka. Pandita Chiang akan menjaga qianbei nanti. Tapi qianbei jangan pulang lagi. Qianbei harus pergi, jauh sekali. Buddha Amitabha akan membimbing qianbei. Buddha tidak pernah mau menghampiri saya. Guru tahu sendiri — Kalau begitu, percayalah pada saya, potongnya tegas.

Saya, ftng memimpikan kedatangan qianbei di pohon itu. Saya, yang memimpikan hari ini. Apa 'sejati' itu? Dan aku bertanya pahit. Bagaimana saya bisa menemukan kalau tidak tahu apa yang dicari? Qianbei akan tahu. Tapi itu tidak bisa dijawab sekarang. Tidak oleh siapa pun — Berhenti memanggil saya qianbei, Guru. Itu tidak pantas. Saya yang seharusnya memanggil begitu — Ia tahu-tahu menyungkurkan tubuh tuanya.

Ubunubunnya bertemu dengan jempol kakiku. Spontan aku melompat mundur. Namun Guru Liong menangkap tanganku lebih cepat, dan menciumnya. Ia pun memanggilku: Hanya ini yang bisa saya beri. No can do, aku menolak. Kamu bukan Departemen Sosial, dan saya tidak setragis itu.

I'm out of here. Kell menekan suaranya sampai tinggal udara, tapi bisa kutangkap kata-katanya: Dan pada detik itu waktu bercampur. Waktuku di vihara menghadap Guru Liong dan waktunya Kell saat ini.

Categoría de productos

Bertemu pada satu titik. Sementara jasad ini—artefak yang dihasilkan ruang dan waktu—seperti beku. Tak sanggup mengikuti. Ada yang belum kuceritakan. Dengan beban tinggi yang mengimpit kami dari segala sisi, kata-kata ini tergulir dari mulutnya: Saya butuh satu lagi.

Dan kamulah orangnya, orang ke, yang lalu menjadikanku ke Kita saling memberi satu untuk jadi genap. Jadi, coba pahami, kamu adalah kemerdekaanku. Kell menepuk bahuku, mengingatkan kalau badan seorang bernama Bodhi masih ada.

Tugasku menabur. Tugasmu berakar. Dan tatapan pria itu tidak lagi buta, bahkan lebih jauh. Telaga hijaunya berubah menjadi kawah telur asin yang menggelegak: You are the Last One. Dan kamulah perajah tato ke di tubuhku.

Aku menelan ludah yang apabila dibiarkan sedetik lebih lama akan ngacir jatuh ke lantai. Kesejatian hidup tak memerlukan perubahan, namun juga tak menampiknya. Dia rebah pada semua kesederhanaan yang ada di sekelilingmu. Maka, carilah, dan kamu akan mendapatinya. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Mintalah, maka kau akan diberi. Demikianlah Dewi Lestari mewakilkan sebuah upaya pencarian kesejatian hidup pada seorang tokoh bernama Bodhi.

Seorang bayi yang di suatu pagi tergeletak di pintu Vihara. Dipungut, diasuh, dan dididik oleh seorang Pandita, Guru Liong. Merasa bahwa karma pada hidup masa lalunya sangat berat. Pemurnian spirit. Termasuk sejumlah pengalaman uniknya yang "merasa" menjadi ulat, tikus got, kucing, dan sapi.

Bersama serombongan pendeta Buddha, Bodhi menyeberang ke Sumatera dan memutuskan menetap di daerah Belawan. Tanpa KTP, tak juga faham mengenai asal usul dan tanggal kelahirannya. Bekerja tiga bulan, mendapat upah, dan dibantu oleh Ompu Berlin untuk mendapatkan sejumlah dokumen identitas termasuk paspor, Bodhi menyeberang ke Penang. Disana dia bertemu dengan sejumlah backpackers yang kemudian "memberi" arah perjalanan berikutnya: Bangkok.

Bangkok surga bagi para backpackers. Ratusan pengelana dari mancanegara tumpah di sana. Bodhi tinggal di semua rumah penginapan Srinthip bersama sejumlah backpakers multi etnis. Penghuninya datang dan pergi. Masuklah Kell, seorang lelaki tampan, peranakan Irlandia dan Mesir. Lelaki tertampan yang mungkin pernah ada di bumi ini yang mempunyai tugas kehidupan untuk membubuhkan tatto pada orang untuk membuat dirinya menyongsong kemerdekaan paripurna setelah orang ke membubuhkan tato yang ke ke tubuhnya.

Kell kemudian mengajarinya tattoo. Lalu, jadilah Bodhi seorang tattooist dan menjadikan itu sebagai cara untuk mendapatkan uang bagi biaya hidup sehari-hari. Seorang backpacker perempuan bernama Star, berasal dari Hollywood, peranakan Eropa Timur dan Timur Tengah masuk dan menginap di Srinthip. Perempuan cantik dan tercantik yang pernah dilihat Bodhi. Perawakan tubuhnya sempurna. Perempuan inilah yang memperkenalkan dirinya dengan sebuah perasaan lain yang belum pernah dia rasakan sepanjang hidup.

Star minta Bodhi mentattoonya tepat di payudara. Dan bergetarlah kulit semesta. Bergerolalah gelombang samudera. Erangan kesakitan Star sewaktu ditattoo adalah hasrat dedaunan yang mendambakan sapuan sinar matahari.

Waktu berlalu dan mereka berpisah. Entah kenapa.Now her life was not the arranged life made by neither her parents nor anybody else, it was her own choice, she had her freedom too and she had made commitment in it. Despite the very real quote above, this book is by far the most fun ny one out of all the precedings.

Telaga hijaunya berubah menjadi kawah telur asin yang menggelegak: Meaning of Life Leads to The Essence of life a. In place Clouds to fill received by the discussion, their opticians perform to make cold or above

ARLIE from New York
Feel free to read my other articles. One of my hobbies is weightlifting. I love reading comics zestfully .